home

search

The Darkness Has Arrived

  Baghdad, 816 Masehi

  Beberapa minggu telah berlalu sejak Aisha terakhir kali menghirup debu kering Khurasan. Merv—tenang, akrab, dan mudah ditebak—kini hanya tinggal kenangan yang memudar di cakrawala timur. Sebagai putri Al-Fadl ibn Sahl, ia tidak punya pilihan selain bergabung dengan kafilah besar ayahnya menuju jantung kekhalifahan.

  Baghdad—kota yang konon dibangun di atas mimpi dan darah—lebih megah dari yang dia bayangkan. Dan jauh lebih menyesakkan.

  Pagi itu, sebelum langit berubah kelabu, Aisha menemukan ayahnya di paviliun sementara di dalam kompleks istana. Al-Fadl, seorang pria yang mampu menggerakkan pasukan hanya dengan jentikan tangannya, duduk sambil mengusap pelipisnya di depan tumpukan gulungan pajak.

  “Mengapa dahimu terlihat lebih keriput di sini daripada saat di Merv?” tanya Aisha, sambil meletakkan nampan berisi zaitun dan madu.

  Dia mendongak menatapnya. Kelelahan di matanya mereda sesaat. Dia menarik kursi kayu lebih dekat agar wanita itu bisa duduk di sampingnya.

  “Baghdad penuh dengan serigala, putriku. Di Khurasan, kita tahu siapa yang berpihak pada kita dan siapa yang melawan kita. Di sini?” Ia tersenyum tipis tanpa humor. “Bahkan bayanganmu sendiri mungkin akan mengkhianatimu.”

  Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan lembut, seperti sebuah restu yang tak berani dia ucapkan dengan lantang.

  “Berjanjilah padaku kau tidak akan pergi tanpa pengawalmu. Aku tidak akan kehilangan satu-satunya cahaya yang kumiliki di tengah kegelapan politik ini.”

  Aisha tersenyum. “Tenang, Ayah. Aku cepat. Tidak ada serigala yang bisa menangkapku.”

  Dia salah.

  Serigala yang dia maksud tidak mengejarmu. Mereka menunggu dalam kegelapan.

  Pada hari yang sama, ayahnya kembali ke Khurasan karena urusan kenegaraan yang mendesak sebagai Wazir Agung. Kekosongan yang ditinggalkannya terasa berat di dadanya.

  Malam itu, hawa dingin merayap masuk ke kamarnya. Lampu minyak di sudut ruangan hampir padam, memancarkan bayangan panjang dan buram di dinding marmer. Aisha gelisah di tempat tidurnya yang terbuat dari sutra.

  Dia bermimpi tentang hamparan putih yang tak berujung. Wajah-wajah aneh. Anak-anak memanggil namanya dengan suara serak dan jauh.

  Lalu sebuah bisikan, tajam di telinganya:

  “Apa salahnya mencoba memahami manusia sekali saja, Nak? Satu langkah kecil tidak akan merusak segalanya.”

  “Tidak. Pergi sana. Kau setan!” teriaknya, tersentak bangun dengan keringat dingin. Napasnya tersengal-sengal dan tidak teratur. “Allahu Akbar,” bisiknya, gemetar.

  Ruangan itu terasa penuh ancaman sekarang. Seolah-olah mata mengawasinya dari setiap sudut gelap.

  Dia memutuskan untuk mengambil mushaf dari aula luar. Mungkin melafalkan kitab suci akan menenangkan hatinya.

  Saat dia melangkah ke koridor yang gelap, dia mendengarnya.

  Ketuk. Ketuk. Ketuk.

  Langkah kaki. Terukur. Hati-hati. Terlalu hati-hati untuk seorang pelayan biasa.

  Aisha menyelinap di balik tirai yang menuju ke aula utama.

  Dua pria berpakaian lusuh bergerak dengan ketelitian yang tenang. Salah satu dari mereka membawa bungkusan besar yang dibungkus kain kasar. Sesuatu menetes dari bawahnya, berkilauan di bawah sinar bulan.

  Bukan roti. Bukan gulungan.

  Sebuah tubuh.

  Napasnya tercekat. Para penjaga—diam. Kediaman megah itu berdiri sunyi seperti kuburan.

  Enjoying this book? Seek out the original to ensure the author gets credit.

  Pengkhianatan sedang terjadi tepat di bawah atap rumahnya.

  Dia berbalik dan berlari menuju kamar ibunya, tetapi kepanikan membuatnya kikuk. Kakinya tersangkut pada karpet Persia yang tebal.

  Menabrak.

  Dia jatuh ke lantai dengan keras. Lututnya membentur lantai marmer, tetapi rasa sakitnya hampir tidak terasa karena ketakutan yang mencekam di dadanya.

  Sebelum dia sempat berteriak, sebuah tangan kasar membekap mulutnya.

  “Aku bisa melawanmu! Jangan sentuh aku! Aku putri Wazir!” Aisha menggigit bibirnya dengan keras. Rasa logam darah memenuhi mulutnya.

  “Gadis ini terlalu banyak bicara,” sebuah suara dingin terdengar dari balik bayangan.

  Lampu minyak yang hampir mati itu memancarkan cahaya redup ke arah dua sosok.

  Salah satunya adalah seorang wanita dengan kerudung tipis.

  Aisha terdiam kaku.

  Wanita yang biasa menuangkan teh untuknya. Orang yang dia percayai.

  “Kau… kau mengkhianatiku?”

  Retakan.

  Sebilah pisau menghantam pelipisnya.

  Dunia terputar—

  lalu kegelapan menelannya sepenuhnya.

  Gadis dari abad kesembilan itu lenyap ke dalam kehampaan.

  Dan gadis dari distrik ke-21? Dia tidak tahu apa yang menunggunya.

  Hujan tak kunjung reda. Malahan, hujan semakin deras, menghantam atap seng asrama seperti suara tembakan. Angin menerobos masuk melalui kusen jendela kayu yang melengkung, membawa hawa dingin masuk ke dalam ruangan.

  Ruqayyah sendirian di dapur yang remang-remang, hanya diterangi oleh lampu darurat yang berkedip-kedip di ambang kematian. Dia sedang mencuci beras untuk sarapan besok—cukup untuk ratusan siswa.

  Biasanya, rutinitas itu menenangkannya.

  Malam ini, semuanya terasa janggal.

  “Sedikit lagi…” gumamnya, berusaha melawan kelelahan yang membuat kepalanya terkulai ke arah panci. “Aku sangat lelah.”

  Tangannya gemetar saat ia memutar kenop gas. Nyala api biru menyala, bergoyang tertiup angin dari jendela yang tak bisa tertutup rapat.

  Dia membungkuk untuk memeriksa air yang mulai mendidih, berusaha mengabaikan suara gemuruh yang mengguncang gelas. Kelelahan membuatnya ceroboh.

  Sebuah kesalahan kecil.

  Lap dapur yang disampirkan di bahunya terlepas, ujungnya menjuntai tepat saat dia membungkuk untuk memeriksa bagian bawah kompor.

  Api langsung menyambar benda itu.

  Bau kain terbakar menusuk hidungnya.

  “Astaghfirullah!”

  Ia meraih handuk itu dengan tangan kosong, tetapi api sudah menjalar ke tirai plastik di dekat jendela. Asap hitam tebal mengepul ke dapur, membubung ke atas seperti sesuatu yang hidup. Matanya terasa perih. Ia batuk keras, pandangannya kabur.

  “Oh tidak—”

  Dia berlari ke pintu belakang. Pintu itu tidak bisa dibuka. Kayunya membengkak karena kelembapan dan panas.

  Dia mencoba membuka jendela—jeruji besi menghalangi jalan.

  Dapur sempit itu berubah menjadi oven. Panasnya membakar wajah dan lengannya. Ruqayyah jatuh ke lantai, merangkak, putus asa mencari udara yang bisa dihirup. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan logam cair.

  Dia ingat gurunya pernah menyebutkan kehormatan menjadi martir dalam kebakaran.

  Namun saat ini, yang dia inginkan hanyalah hidup.

  Pikiran itu tiba-tiba terlintas di benaknya tanpa alasan sama sekali.

  Sebuah panci besar jatuh ke lantai. Air mendidih tumpah. Uap menyembur keluar, membakar udara. Jantungnya berdebar kencang. Dunia terasa berputar.

  Kemudian-

  LEDAKAN!

  Sebuah ledakan mengguncang malam. Kulkas tua di sudut ruangan hancur berkeping-keping, kompresornya tidak mampu menahan panas. Tubuh kecil Ruqayyah terlempar ke dinding beton. Kepalanya membentur tepi meja logam.

  Rasa sakit itu hanya berlangsung sedetik.

  Lalu semuanya lenyap.

  Hujan.

  Api.

  Jeritannya sendiri.

  Hilang.

  Dunia menjadi gelap gulita.

  Dan jiwanya melayang—

  ditarik menuju hamparan putih yang tak berujung.

Recommended Popular Novels